Program ini diperuntukkan bagi desa-desa nelayan, pertanian, hingga desa di pedalaman. Jaringan Internet diharapkan dapat mendukung dan membantu kegiatan sehari-hari masyarakat. Pada tahun 2015 sebanyak 50 desa dikembangkan, antara lain di Riau, Kepulauan Riau, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Maluku, dan Papua. Kelima puluh desa di wilayah ini sudah memiliki website yang cukup lengkap berisi profil desa, kabar desa, produk unggulan, potensi, kependudukan, dan anggaran desa.

Ke depannya, konsep ini akan dipadukan dengan akses komunal di ribuan desa lainnya di seluruh Indonesia dengan melibatkan Kementerian/Lembaga terkait, demi mengurangi kesenjangan digital antara pusat dan daerah terluar dan terdepan.



Memiliki 17 kawasan Free-WiFi
Salah satu desa yang secara nyata sudah menikmati kemudahan dunia digital adalah Desa Lamahu di Kecamatan Bulango – Kabupaten Bone Bolango. Desa digital pertama di Indonesia ini memiliki Command Center yang merupakan pusat pelayanan digital pemerintah desa sekaligus memantau aktivitas dan memberikan layanan pada masyarakat desa.

Desa Lamahu ditunjang infrastruktur digital yang terdiri atas 32 telepon pintar, 32 kamera pengintai, 32 lampu otomat, dan 17 unit kawasan free-WiFi. Menurut Hasan Hasiru, Kepala Desa Lamahu, infrastruktur ini merupakan bantuan dari Telkomsel untuk mewujudkan desa mandiri berbasis digital. Warga bisa mengakses WiFi gratis di desa ini dengan sangat mudah, cukup memasukkan NIK (Nomor Induk Kependudukan (NIK) masing-masing.

Sedikit berbeda dengan Desa Lamahu yang mendapat dukungan infrastruktur, Desa Melung di Kabupaten Banyumas berhasil menjadi desa digital berkat kegigihan mantan kepala desanya, Agung Budi Satrio. Tahun 2008 dia menyadari pentingnya Internet. Dengan menggunakan kas desa, Agung Budi Satrio menyewa jaringan Internet kemudian membeli antena pemancar dan penerima lalu menyebarkan sinyal hotspot ke seluruh desa menggunakan router.

Warga menyambut gembira Internet ini. Mereka mulai memiliki PC, laptop, hingga gawai bekas. Desa Melung kemudian membuat website yang menginformasikan kegiatan di desa ini mulai dari pertanian, peternakan, dan seni budaya, hingga warga yang menjadi TKI di luar negeri. Tersedianya sarana Internet ini sama sekali tidak mendapatkan anggaran dari pemerintah daerah.

Desa Melung akhirnya menginspirasi lahirnya Gerakan Desa Membangun yang bertujuan untuk membangun desa dengan berbasis Internet dan teknologi informasi melalui gerakan swadaya masyarakat. Hingga sekarang ada 30 desa di wilayah Kabupaten Banyumas sudah bergabung.


Sistem Informasi Desa
Salah satu hal penting di era digital adalah ketersediaan data yang lengkap. Untuk menjaring data lengkap, pemerintah sudah merancang Sistem Informasi Desa yang merupakan implementasi Undang-Undang Desa tahun 2014. Walaupun belum ada standarisasi program dari pemerintah pusat, tapi beberapa kelompok masyarakat sudah mengembangkannya secara swadaya, seperti Gerakan Desa Membangun (GDM). Gerakan ini menyediakan pelatihan sekaligus aplikasi Desa 0.2 yang memudahkan mereka untuk mendata warganya.


Ada juga aplikasi Mitra Desa.id yang dikembangkan oleh Infest (Institut of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies), sebuah lembaga nirbala di Yogyakarta. Aplikasi ini menyediakan pengelolaan data dan administrasi penduduk, tata kelola kependudukan, aset desa, dan penyajian statistik.


Dengan semakin memasyarakat dan meluasnya penggunaan Internet di desa, semoga masyarakat perdesaan semakin maju dan bisa bertransformasi ke arah yang lebih baik.