Arief Widhiyasa adalah salah satu pendiri Agate Studio, developer game lokal. Pria kelahiran 4 April 1987 ini menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO).
Jauh sebelum menjadi CEO Agate Studio, kecintaan Arief akan dunia game sudah tertanam sedari kecil. Sejak TK, ia gemar main game di perangkat Nintendo yang diberikan orangtuanya. Sejak itulah Arief menjadi maniak game. Ketika sedang berkutat dengan permainannya, sehari ia dapat menghabiskan waktu 8–12 jam. Selain itu, sedari kecil Arief suka membuat komik dan membuat game dengan kertas.

Dari Hobi Jadi Bisnis
Semangat Arief memang luar biasa. Ia punya mimpi untuk bisa membuat game sendiri. Beruntung ia memiliki rekan-rekan yang bisa dibilang ‘maniak game’ juga. Berangkat dari hobi yang sama dengan para sahabatnya, mereka perlahan mulai menciptakan dan mendesain game—terutama yang konsepnya digital. Karena tidak bisa melakukan hobinya di kampus, Arief sampai rela menyewa tempat agar fokus membuat game.
Dari mulanya sekadar hobi, pendiri Agate yang bertemu pada Oktober 2007 silam, mulai melihat hasil dan buah manis kerja bareng mereka. Singkat cerita, tim Agate membuat game Ponporon yang dipamerkan di Indonesia Game Show 2008 lalu. Dari situ mereka akhirnya memutuskan membuat Indonesia Game Developer secara resmi pada bulan April 2009 lalu.
Setiap tahunnya, Agate terus menciptakan game-game terbaru, kisaran produksinya sekitar 20–30 game per tahun. Hingga kini, sudah ratusan game yang dibuat. Resepnya karena tim Agate Studio berhasil menjalin hubungan baik dengan para penggunanya hingga menciptakan komunitas pencinta game tersebut.
Sayangnya, karena kesibukannya di Agate Studio, Arief Widhiyasa harus mengorbankan pendidikannya. Ia memilih tak melanjutkan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung dan memutuskan drop out. Meskipun awalnya orang tua tidak menyetujui keputusannya, namun akhirnya Arief mendapat dukungan sepenuhnya karena latar belakang orang tuanya pun adalah pengusaha.


Kerja Sama Developer Asing
Perkembangan industri game di Tanah Air memang cukup signifikan. Pun begitu dengan prospek developer atau pembuat game. Tak hanya bisa meningkatkan industri dalam negeri, bila konsisten dan berkompetensi, mereka dapat go international dan menjadi game global.
Itulah yang terjadi dengan Agate Studio. Setelah berjalan empat tahun, Agate Studio berpotensi untuk mendunia. Momen tersebut datang ketika datang tawaran kerja sama dari Square Enix. Pengembang game asal Jepang ini tenar berkat sejumlah game populer seperti Final Fantasy, Dragon Quest, dan Kingdom Hearts.
Bicara soal prosesnya, jalinan kerja sama Square Enix memakan waktu sekitar dua tahun. Waktu itu Agate Studio menggelar acara Indonesia Bermain pada 2011 lalu. Selanjutnya, Square Enix mulai melirik dan menawarkan game terbaik pada Indonesia Bermain 2011. Hingga akhirnya mereka sepakat untuk menjalin kerja sama yang dinamis untuk memajukan industri game.
Arief berharap pemerintah Indonesia dapat mendorong pertumbuhan industri game. Menurutnya pemerintah sudah mendukung industri game. Namun, secara industri akan lebih baik jika pemerintah melihat kebijakan-kebijakan layaknya negara lain untuk memajukan industri ini. Misalnya, marketing bersama dan membuat pasar bersama-sama.
Adanya insentif untuk startup game developer serta riset game developer juga akan sangat membantu perkembangan industri game Tanah Air. Terakhir adalah terkait pajak dan dukungan pemerintah di sektor akademis agar kiranya mampu menciptakan talent-talent gamers yang andal.