“Saya tidak menyandang gelar (pendidikan) apa pun,” ungkap Adiatmo Rahardi membuka perbincangan. Ditambahkannya, itu karena ia tidak sampai menyelesaikan pendidikan S1 di jurusan Teknik Komputer Univesitas Multimedia Nusantara (UMN).

Meskipun begitu, ketika berkuliah, ia menjadi satu-satunya mahasiswa yang berpartisipasi dalam pendirian Lab Penelitian oleh Profesor Yohanes Surya. Di situlah hampir setiap hari ia banyak belajar mengenai robotika.

Tentang kesukaannya mempelajari dan mengutak-atik robot, pria yang akrab disapa Adi ini menceritakan kesukaannya itu sudah muncul sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Dimulai dengan mengutak-atik perangkat elektronik yang dimiliki, baru mulai SMP ia mengoprek mainan robot.

Dikatakan pria kelahiran 31 Maret 1986 ini, ada kepuasan tersendiri ketika robot (yang diciptakan) itu sudah bisa melakukan fungsi yang diinginkan.



Dari Anak-Anak hingga Peneliti
Terkait Komunitas Robot Indonesia, ada beberapa faktor yang mendasari Adi mendirikan komunitas tersebut pada tahun 2012 lalu. Faktor pertama adalah kebutuhan anak-anak yang ingin belajar membuat robot, tapi tidak tahu cara dan tempat mereka dapat mempelajarinya. Faktor kedua, masih terkotak-kotaknya peneliti dan pembuat robot di Indonesia, baik di lingkungan kampus maupun antara daerah.

“Banyak dari mereka yang masih merahasiakan hasil-hasil penelitiannya dan menghindari kolaborasi dengan yang lain. Nah, melalui komunitas ini kami coba untuk menyatukan dan menyambungkan mereka satu sama lain,” jelas Adi.

Untuk mencapai tujuan tersebut, langkah yang dilakukan komunitas yang berangkat dari grup Facebook ini adalah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya membangun skill dan prestasi anggota komunitas. Bentuk kegiatan itu sendiri terbagi dalam tiga kegiatan utama, yaitu Robotics Fair, Robotics Competition, dan gathering, workshop, atau seminar yang dilakukan secara rutin dan berkala.


Prestasi Internasional
Hasilnya, menurutnya, setelah adanya Komunitas Robot Indonesia, minat anak-anak yang ingin mempelajari robotika meningkat pesat. Prestasi mereka pun mengalami peningkatan cukup signifikan. Salah satu contoh terbaru adalah komunitas robot di Surabaya yang belum lama menjuarai kompetisi Robot Underwater di Amerika Serikat.

Adi menjelaskan, sebelum mengikuti kompetisi, komunitas tersebut terlebih dulu mengikuti workshop yang diselenggarakan Komunitas Robot Indonesia, yakni workshop yang menghadirkan Ahli Robot Underwater Silicon Valley Amerika Serikat Eric Stackpole.
Begitu pula di tingkat peneliti dan pembuat robot. Diuraikannya, dari upaya yang dilakukan Komunitas Robot Indonesia, tidak sedikit peneliti, pembuat robot, dan kampus-kampus yang kemudian membentuk tim, berkolaborasi, sampai akhirnya menciptakan prestasi membanggakan baik di tingkat nasional maupun internasional.

Atas upaya Komunitas Robot Indonesia “menghidupkan” masyarakat robotika Indonesia, tahun 2016 lalu Pusat Kebudayaan Amerika Serikat menganugerahi komunitas tersebut penghargaan “The Best Collaborator”.

“Saya sendiri pernah menerima penghargaan sebagai salah satu dari “The Best IT Figure” dari Majalah CHIP Indonesia tahun 2012,” tambah Adi.


Terus Melangkah
Puaskah Adi dengan prestasi pribadi maupun Komunitas Robot Indonesia yang kini telah memiliki 15.000 anggota di seluruh Indonesia? Sama sekali belum. Menurutnya, di usia Komunitas Robot Indonesia yang sudah enam tahun ini masih banyak cita-cita pendiri dan anggota yang ikut merintis pendirian komunitas yang belum tercapai.

Untuk itu, Komunitas Robot Indonesia akan mamperbanyak dan memperluas jaringan kolaborasi dengan banyak pihak lain, seperti Bekraf, Makernesia, Westport, dan GE Indonesia.

“Kami ingin menjadi leader di South East Asia. Harapannya Komunitas Robot Indonesia menjadi komunitas pembuat robot yang disegani tak hanya karena kegeniusannya tetapi juga sopan santunnya,” pungkas Adi.